200 Mayat Demonstran begelimpangan di Libya

Seorang dokter di kota Benghazi, Libya mengatakan rumah sakitnya telah melihat minimal 200 jasad dari para pengunjuk rasa yang tewas oleh pasukan Muammar Gaddafi selama beberapa hari terakhir.

Ia (dokter) enggan mengungkapkan identitasnya karena khawatir akan dampak yang terjadi akibat pernyataannya. Beberapa saksi melihat bagaimana gabungan komando khusus, tentara bayaran asing dan loyalis Gaddafi menyerang para demonstran pada hari Sabtu dengan pisau,senapan serbu dan senjata berat.
Dan mereka mengubur 35 orang pengunjuk rasa yang dibunuh pada hari Jumat 18 Februari 2011 oleh pasukan pemerintah.

Seperti dilansir daily telegraph, Benghazi telah menjadi pusat pengunjuk rasa selama enam hari terakhir untuk melakukan demostrasi yang diilhami dari pemberontakan di Mesir dan Tunisia dan rasa frustrasi atas lebih dari 40 tahun kekuasaan otoriter Gaddafi.

Menurut dokter di sebuah rumah sakit dari 2 rumah sakit dikota terbesar kedua di Libya,mereka kekurangan suplai akan kebutuhan rumah sakit dan tidak dapat mengobati lebih dari 70 orang yang mengalami luka-luka karena terkena serangan serta memerlukan perhatian.

“Aku menangis,” kata dokter. “Mengapa dunia ini tidak mendengarkan?”

Para wartawan tidak dapat bekerja secara bebas di Libya sehingga rincian informasi yang konkrit tentang protes di Libya sulit didapatkan. Informasi tentang pemberontakan didapatkan melalui wawancara telepon, video dan pesan yang diposting online serta melalui aktivis oposisi di pengasingan.

The Arbor,perusahaan jaringan yang berbasis di AS melaporkan jaringan layanan internet diblokir di Libya tepat sebelum tengah malam pada Sabtu malam. Lalu lintas online berhenti di Libya sekitar 02:00 dini hari pada hari Sabtu 19 Februari 2011, dipulihkan beberapa jam kemudian dengan level koneksi yang berkurang dan diblokir pada malam itu.

Orang-orang di Libya juga mengatakan mereka tidak bisa lagi melakukan panggilan telepon dengan telepon PSTN mereka. Menurut beberapa sumber, polisi di Benghazi awalnya mengikuti perintah untuk bertindak terhadap para pengunjuk rasa, namun kemudian mereka justru bergabung dengan para pengunjuk rasa dan siap mati karena mereka berasal dari suku yang sama dan melihat tentara bayaran asing mengambil bagian dalam pembunuhan.[](inl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s