Arab Saudi, Penampungan para Diktator Arab

Mantan diktator Mesir, Hosni Mubarak seperti Zeni El Abidine Ben Ali, akhirnya memilih Arab Saudi sebagai tempat tinggalnya setelah ia pesimis atas negara-negara yang sebelumnya berjanji mendukungnya dan siap bekerjasama dengan dirinya.

Berbagai berita menyebutkan, Mubarak telah meninggalkan tempat kediamannya di Sharm el-Sheikh dan pergi ke Arab Saudi untuk berobat di Rumah Sakit Tabuk. Sepertinya penyakit kronis merupakan ganjaran bagi rezim yang bertahun-tahun berkuasa di Mesir dan tidak pernah memperhatikan tuntutan rakyatnya serta menganggap negara ini sebagai milik pribadinya. Demikian dilaporkan IRNA Rabu (23/2)

Sejarah membuktikan bahwa pemimpin despotik yang menutup mata dan telinganya dari kritikan oposisi tetap menolak setiap usulan dan tuntutan rakyat karena mereka takut kehilangan kekuasaan. Penguasa seperti ini tak segan-segan mengasingkan rivalnya yang dianggap berbahaya. Penguasa zalim pun pada akhirnya akan bernasib sama dengan oposisi yang mereka asingkan. Untuk melewati sisa hidupnya, penguasa despotik terpaksa mencari suaka dan bantuan dari mitra-mitranya.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah perbedaan nyata, karena negara-negara barat sebagai pengklaim pendukung demokrasi seperti biasanya menjadi tempat penampungan para diktator dunia. Tapi kini, Barat enggan menerima Mubarak dan Ben Ali yang digulingkan rakyatnya. Oleh karena itu, Mubarak dan Ben Ali mencari negara yang benar-benar despotik sebagai tempat bernaung menghabiskan sisi umur mereka.

Kini Arab Saudi menjadi tempat penampungan para diktator terguling. Arab Saudi adalah negara paling despotik di kawasan. Negara ini hingga kini masih dikuasai oleh keluarga Saud. Riyadh pun tak melupakan persahabatannya dengan Mubarak dan Ben Ali serta menyatakan kesiapannya menampung dua mitranya yang menjadi boneka kepentingan Amerika Serikat tersebut di kawasan.

Arab Saudi dan Mesir sebagai dua negara besar Arab serta Tunisia tidak pernah melakukan langkah positif menyelesaikan penderitaan bangsa tertindas Palestina. Meski keduanya di luarnya mendukung bangsa Palestina, namun Riyadh dan Kairo senantiasa bersikap menguntungkan Rezim Zionis Israel.

Mubarak pun secara transparan membantu Israel serta andil dalam blokade rakyat Jalur Gaza. Tindakan Mesir menutup jalur penyeberangan Rafah membuktikan hal ini. Oleh karena itu, Israel sangat khawatir dengan merebaknya kebangkitan rakyat Arab dan Afrika Utara. Kebangkitan ini mengancam kepentingan Tel Aviv di dunia. Lengsernya Mubarak adalah contoh nyata, karena Israel telah kehilangan sekutu dekatnya di kawasan. (IRIB/IRNA/MF)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s