Pasar Tradisional Tewas

Makin menjamurnya minimarket di DKI Jakarta berdampak kepada pasar-pasar tradisional. Persaingan yang terjadi antara pasar tradisonal dan pasar modern menmbuat mata rantai pasar tardisional hancur.

Hal ini diakui Ketua Majelis Pertimbangan Asosiasi Pedagang pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta Hasan Basri. “25 persen pasar-pasar dan kios-kios sudah ditinggalkan pedagang karena bangkrut dan tidak mampu bersaing dengan pasar-pasar modern.” Ujarnya kepada okezone, baru-baru ini.

Menurutnya, dampak dari ditinggalkannya pasar tradisional ini membuat semakin menjamurnya para pedagang kaki lima. Di samping itu, PD Pasar Jaya juga mengalami kebangkrutan dan penurunan jumlah karyawan. “PD Pasar Jaya menjadi bangkrut, yang dulunya pada tahun 2000 memiliki sebanyak 5.000 lebih karyawan, sekarang ini turun drastis tinggal 1500 karyawan,” ungkap Hasan.

Dalam Peraturan Daerah DKI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta menerapkan aturan zonasi minimal 2,5 kilometer dari pasar tradisional. Namun kenyataan di lapangan, pembangunan pasar modern seakan tidak terkendali dan banyak yang berdiri bersampingan dengan pasar tradisional.

Dalam perda itu juga disebut miniswalayan maksimal memiliki luas 4.000 meter persegi. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya 100-200 meter persegi harus berjarak 0,5 km dari pasar lingkungan dan terletak di sisi jalan lingkungan/kolektor/arteri. Selain itu, waktu penyelenggaraan usaha perpasaran swasta dimulai pukul 09.00 hingga pukul 22.00 WIB.

Menanggapi peraturan tersebut, Hasan beranggapan peraturan yang dibuat tidak berjalan dengan dengan semestinya. Buktinya, masih banya minimarket yang hampir ditemukan di setiap gang-gang kecil.

“Seharusnya setelah adanya peraturan tersebut, pemerintah tidak bisa lagi sembarangan memberi izin kepada pengusaha untuk membuka minimarket, tapi kenyataannnya sekarang ini minimarket semakin menjamur. Izin yang dikeluarkan setelah adanya peraturan Tahun 2006, menurut saya syarat dengan permainan alias KKN. Padahal perda tentang minimarket yang dikeluarkan itu mendukung perda perpasaran. Tapi perda tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya,” papar Hasan.

Menurut dia, semakin mengguritanya bisnis ritel modern ini menggerus pasar tradisional. Pada akhirnya imbas dari persaingan yang tidak sehat ini berdampak besar terhadap mata rantai pasar tradisional. “Mata rantai pasar tradisional hancur oleh pasar modern,” tandasnya.

Keberadaan minimarket ilegal yang kian menjamur di berbagai titik di Jakarta tak hanya melanggar peraturan daerah, tetapi juga merugikan usaha rakyat yang dikelola dengan modal kecil. Hal ini misalnya dituturkan Purwati Suryo (50), pedagang bahan pokok di pasar tradisional Johar yang kalah bersaing dengan minimarket. “Kehadiran minimarket mengganggu pemasukan saya. Kita kalah dengan kualitas mereka,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Cristiono (51), rekan Purwati yang berdagang asongan di Pasar Johar. Minimarket ilegal tersebut biasanya dibangun dengan melanggar aturan. Berdasarkan Perda DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perpasaran, jarak antara pasar tradisional dan minimarket minimal 500 meter. Kenyataanya, amat mudah menemukan minimarket yang dibangun sangat dekat dengan pasar tradisional di berbagai titik di Jakarta.

Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum Jakarta menuntut agar pemerintah DKI Jakarta segera menertibkan dan menegakkan hukum kepada minimarket yang nyata-nyata melanggar aturan. Mereka memberi waktu selama 90 hari kepada pemerintah DKI untuk bertindak.

Maruli, pengacara publik LBH Jakarta mengatakan pihaknya juga akan membuka posko pengaduan tentang pidana perpasaran di markas mereka di Jalan Diponegoro Nomor 74. Jika waktu 90 hari tersebut diabaikan pemerintah DKI, Maruli mengajak seluruh pedagang pasar tradisional dan pedagang informal untuk menggugat pemerintah, karena membiarkan kejahatan perpasaran di wilayah DKI Jakarta.[](ram/oz)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s