Ritual Asap Suku Aborigin

Penyambutan tamu dengan minum teh atau jenis minuman lainnya sebenarnya masih merupakan bagian dari kebiasaan Aborigin, tetapi baru disuguhkan setelah ritual asap. Setelah basa-basi sejenak, seorang pria bernama Thaddeus Puautjimi membawa wadah kaleng berisi dedaunan layu dan diletakkan di depan para tamu. Dedaunan dibakar, sementara tiga perempuan telah siap dengan seberkas ranting berdaun.

Ketika asap mengepul, seorang pria lain, Romolo Kantila, secara teratur menepukkan tangannya yang menggenggam dua potongan kayu bernama clap stick. Kepakannya menghasilkan bunyi padu sebagai pengiring lagu khusus yang mereka nyanyikan bersama. Sambil menari, ketiga wanita itu menyentuhkan berkas dedaunan di genggaman mereka ke kepulan asap, yang kemudian dikibaskan ke wajah para pengunjung.

”Ritual ini adalah tradisi kami menyambut tamu. Maknanya adalah pertanda bahwa Anda direstui berkunjung ke Kepulauan Tiwi, sekaligus menghalau kemungkinan roh jahat yang akan mengganggu,” tutur Romolo Kantila, yang juga pemandu lokal bersama Roland Ocean, ketika mengunjungi sejumlah obyek wisata di kawasan Pulau Bathurst.

Terletak di utara Darwin, Kepulauan Tiwi yang meliputi Pulau Bathurst dan Pulau Melville termasuk salah satu andalan wisata NT. Jika dengan penerbangan, kunjungan ke Pulau Bathurst hanya bisa menggunakan pesawat kecil jenis Cessna 402 yang bertempat duduk 10 kursi, termasuk untuk pilot, dengan lama penerbangan sekitar 30 menit. Bisa juga menumpang feri cepat selama lebih kurang dua jam dari Teluk Cullen, Darwin.

Kepulauan Tiwi masih menyimpan sejumlah obyek menarik lainnya. Berpenduduk sekitar 1.800 orang, hampir semuanya komunitas Aborigin. Mereka adalah bagian dari suku asli Australia yang kini populasinya sekitar 470.000 jiwa atau 2,3 persen dari penduduk Australia yang akhir tahun lalu tercatat 22,4 juta jiwa.

Konon warga Aborigin—termasuk di Kepulauan Tiwi—telah menghuni kawasan benua paling kecil itu sejak 50.000 tahun lalu. Keberadaan mereka jauh sebelum kedatangan kaum imigran Eropa abad ke-18, ditandai dengan kedatangan 11 kapal yang membawa sekitar 1.500 warga kulit putih—sebagian besar narapidana—asal Inggris yang pertama kali menjejakkan kakinya melalui Pelabuhan Sydney, 26 Januari 1778.

”Mengunjungi Kepulauan Tiwi sebenarnya bisa sekaligus menelusuri jejak peradaban Aborigin di Australia. Di kepulauan ada sejumlah lokasi, termasuk kultur masyarakatnya, yang mendukung harapan seperti itu,” papar Raul Kohli dari Badan Pariwisata NT.

Lihat saja di titik lain Pulau Bathurst, telah tumbuh sebuah lembaga pemberdayaan bernama Ngaruwanajirri Inc, yang resmi dibuka sejak Agustus 1994, atas kerja sama Pemerintah Australia dengan Negara Bagian NT. Kata ngaruwanajirri berasal dari bahasa Tiwi yang berarti menolong sesama. Sesuai makna kata itu, Ngaruwanajirri adalah lembaga khusus pemberdayaan kelompok warga Aborigin yang kurang mampu dan mengalami gangguan mental, melalui pelatihan melukis dan mengukir, hingga menghasilkan berbagai karya seni khas Aborigin.

Sensitif

Sebelum memasuki lokasi pemberdayaan itu, pemandu Roland Ocean secara khusus mengingatkan para pengunjung agar berhati-hati jika berkomunikasi dengan peserta pelatihan tersebut karena mereka dikenal sensitif. ”Sebaiknya bertanya atau meminta restu dulu sebelum mewawancarai atau mengambil foto mereka dan kegiatannya,” saran Ocean.

Oleh pembinanya, peserta Ngaruwanajirri didorong menekuni seni lukis, ukir, atau kerajinan tradisi hingga kontemporer. Hasilnya mengagumkan. Karya kelompok warga tak berdaya ini ternyata pernah masuk nominasi The Natinal Aboriginal Art Award beberapa tahun lalu. Karya seni mereka pun sering diikutkan dalam berbagai pameran di kota-kota besar Australia serta telah menjadi bagian dari koleksi pribadi warga berpunya di Australia dan sejumlah negara lainnya.

Jejak peradaban Aborigin, terutama di Kepulauan Tiwi, bisa ditelusuri melalui Museum Tiwi Design di Pulau Bathurst. Koleksinya berupa berbagai hasil karya seni, termasuk dari pusat pembinaan Ngaruwanajirri, serta gambaran kisah menarik terkait Tiwi Dreamtime atau Masa Impian Tiwi.

Masa Impian atau Dreamtime adalah sistem kepercayaan Aborigin tentang masa sebelum penciptaan dunia sakral. Mereka berkeyakinan, para leluhur roh totem muncul dari bumi dan turun dari langit untuk membangun sebuah dunia yang gelap dan sunyi. Tim roh itu lalu menciptakan matahari, bulan, bintang, bumi, bentuk gunung, sungai, pohon, mata air, dan makhluk lainnya. Selanjutnya, tim roh itu menjadi penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui berbagai aspek kehidupan dan budaya Aborigin.

Pesawat Cessna 402 yang kami tumpangi kembali ke Darwin langsung terjebak dalam hujan lebat disertai angin kencang hanya sesaat setelah lepas landas di Nguiu, Pulau Bathurst. Pesawat yang dipiloti Zane Chung itu berguncang hebat, yang mendebarkan jantung hingga membuat para penumpangnya berteriak histeris. Ketika berhasil mendarat dengan selamat di Darwin, seorang rekan wartawan nyeletuk, ”Ritual asap telah menyelamatkan kita…!” []/(Frans Sarong/kps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s