WikiLeaks, Paket Bom dan Teori Konspirasi

Oleh: Sabar Sitanggang (Mahasiswa Program Doktor Departemen Sosiologi FISIP UI)

Rentetan peristiwa pecan ini sungguh mencemaskan kita. Bocoran kawat diplomatik Kedubes Amerika Serikat di Indonesia tentang perilaku rezim permintahan SBY yang berhasil diperoleh WikiLeaks dimuat oleh dua surat kabar di Australia; PLTN di Jepang meledak akibat gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang menyebabkan terjadinya Tsunami mendapat perhatian serius para ahli nuklir di Indonesia bahkan menghadirkan Staf Khusus Presiden bidang penanggulangan bencana; Sebuah paket berisi buku yang dikirim oleh seseorang yang beralamat di Ciomas kepada aktifis Jaringan Islam Liberal ternyata juga berisi bom dan meledak yang mencederai beberapaorang termasuk aparat kepolisian; Selang beberapa jam setelah paket bom di Utan Kayu, paket sejenis dikirimkan ke kantor BNN, meski tak sempat meledak dan menelan korban.

Rentetan peristiwa di atas tampaknya biasa saja. Namun, melihat dekatnya jarak terjadinya dan respons atas peristiwa itu oleh Negara dan apaturnya, patut menimbulkan tanda tanya. Dengan tidak mengurangi rasa simpati atas tragedi tsunami yang menimpa Jepang dan korban akibat meledaknya kiriman paket, tulisan ini berupaya memang dari sudut yang berbeda.

Salah satu teori yang sejak kelahirannya hingga hari ini belum selesai -baik didefinisikan atau disepakati apalagi terbukti, adalah Teori Konspirasi ata sering pula disebut Teori Persekongkolan. Pada dasarnya, Teori Konspirasi meyakini bahwa suatu peristiwa ganjil pasti dilatarbelakangi oleh persengkongkolan kuat di belakangnya.

Menurut Wikipedia, Teori Konspirasi -yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai conspiracy theory, adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.

Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Dari kacamata Teori Konspirasi ini pula kita akan mencoba menelaah beberapa peristiwa di atas yang terjadi seolah-oleh bersinambung.

Berita Utama halaman depan The Age dan Sydney Morning Herald Jum’at, pekan lalu, yang menurunkan tulisan bersumber dari WikiLeaks yang berisikan bocoran kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia bertitel Yudhoyono Abused Power, memang mengemparkan publik dalam negeri. Sumber itu antara lain mengatakan bahwa Presiden SBY menggunakan intelijen Indonesia untuk memata-matai para pesaing politiknya, setidaknya satu kali, yakni seorang menteri sangat senior (most senior cabinet) di dalam pemerintahannya.

Istana berekasi. Didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi membantah semua informasi yang dibocorkan Wikileaks terkait Presiden Yudhoyono dan menjadi berita utama di dua harian Australia ”The Age” dan ”The Sydney Morning Herald”. Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi, berkomentar dengan mengatakan bahwa secara pribadi, SBY shock disebut telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Presiden mengurut dada, sementara Ibu negara menangis karena sangat terpukul.

Ketua Umum Partai Demokrat -Partai di mana SBY sebagai Ketua Dewan Pembinanya, Anas Urbaningrum, merasa perlu berkomentar keras. Meski komentar yang disampaikan Anas, bila telisik dari sisi hubungan antar dua negara dan substansi persoalan jauh dari kesepadanan dalam tata pergaulan diplomatik. Yang pasti, Partai Demokrat panik.

Kepanikan juga terjadi pada Kementerian Luar Negeri. Marty Natalegawa, merasa perlu mengundang Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dan menggelar konferensi pers. Meski lagi-lagi, tata-pergaulan diplomatik -yang semestinya dijunjung tinggi oleh sekretariatnya Marty, tampak dilanggar. Meski tampak berada di sebelah Marty, Duta Besar Amerika Serikat -yang tentunya tahu posisinya, enggan berkomentar. Meski akhirnya beliau berkomentar ketika wartawan mencegatnya sambil berjalan. Lagi, Departemen Luar negeri juga panik.

Wajar saja Istana dan pejabat serta orang-orang SBY panik. Hal ini setidaknya karena batalnya rencana telepon Obama kepada SBY. Direncanakan bahwa Obama seharusnya menelepon SBY pada hari Jumat untuk membicarakan dan membahas KTT Asia Timur yang akan datang, yang akan diselenggarakan di Indonesia. Tetapi, ‘ketika kasus WikiLeaks tersebut mencuat, pembicaraan itu pun tidak terjadi’. Meski hal ini mendapat konfirmasi dari Juru Bicara Presiden Teuku Faizasyah yang memastikan tidak adanya telepon itu, tetapi Teuku mengecilkan maknanya dengan mengatakan ”penjadwalan untuk telepon-telepon semacam itu selalu cair”.

***

Menjadi Common sense bahwa bila terjadi bencana yang menimpa suatu negara atau daerah, tanggapan yang paling elegan dan berperi-kemanusiaan adalah simpati atas peristiwa itu dan pengiriman bantuan ke daerah bencana. Itu pula yang pernah dirasakan Indonesia dalam beberapa kali bencana. Negara-negara yang bersimpati, selain menyampaikan sikap berbelasungkawa secaraspontan mengorgansir lembaga yang mungkin di negaranya untuk melakukan upaya-upaya pertolongan sekadarnya. Tapi, untuk kasus Tsunami Jepang, Indonesia berbeda.

Pemberitaan beberapa media nasional yang ditonjolkan adalah ulasan Staf Khusus Presiden bidang penanggulangan bencana, Andi Arif, dan beberapa ahli nuklir atas meledaknya PLTN di akibat bencana dan kemungkinan dampak yang ditimbulkannya. Begitu pentingnya tampilan itu, sehingga Bapeten, BATAN dan beberapa lembaga terkait turut pula ditampilkan. Sementara upaya-upaya pengiriman bantuan relatif tidak menjadi pembicaraan utama. Kalau pun muncul, adalah sebutan besaran angka-angka anggaran bagi penanggualangan bencana yang semakin meningkat. Seakan ingin memberitakan bahwa begitu pedulinya negara atas persoalan bencana, setidaknya diukur dari nilai anggaran yang disiapkan.

***

Beberapa saat setelah paket kiriman buku yang ternyata juga berisi bom meledak, beberapa intelektual dimintakan pendapatnya. Ulil Absar Abdalla sendiri pun akhirnya dimintakan pendapatnya oleh sebuah stasiun televisi swasta nasional. Apa lacur, ulasan yang sedemikian panjang lebar dari Ulil justru menekankan persoalan pada posisinya sebagai politikus, sebagai aktifis partai Demokrat. Kesan muatan dan motif politik begitu kuat diungkapkan, bahkan menjadi keyakinan Ulil.

Untuk memperkuat keyakinannya, Ulil mengungkapkan tentang aktifitasnya yang baru-baru ini, khususnya tentang posisi koalisi terkait dengan Hak Angket Pajak dan reshuffle kabinet. Ulil begitu yakin dan selalu menyebut politik dibalik motif pengiriman bom paket. Padahal, sebagian besar orang yang mengenal Ulil tahu, siapa Ulil dan apa yang digeluti dan diperjuangkannya selama ini. Sehingga, kalau ia bicara politik dibalik motif peristiwa ini, menjadi terkesan dipaksakan dan pertanyaan besar.

***

Tak lama berselang paket yang mirip dikir pula ke kator Badan Narkotika nasional (BNN). Ancaman paket BOM di kantor BNN relatif tidak banyak mendapat tanggapan baik dari pihak BNN sendiri ataupun Pmerintah. Namun, media kembali memberitakan hangat hal itu. Berbagai spekulasi pun dikembangkan. Ujung-ujungnya kelompok radikal Islam menjadi sasaran, bahkan beberapa pengamat secara berani menyebut aliran kelompok tertentu dekat dengan perilaku ini

***

Sekali lagi rentetan peristiwa di atas, akan sangat menarik bila ditinjau dari sisi Teori Konspirasi. Setelah kewalahan dengan gencarnya pemberitaan tentang perilaku rezim SBY terhadap lawan-lawan politik dan hal lainnya, tampaknya ”perlu pengalihan isu pemberitaan WikiLeaks”. Memang, dari sisi teori komunikasi propaganda, pemberitaan dan dampak dari suatu informasi hanya mungkin tertutupi atau dialihkan oleh munculnya pemberitaan dan informasi yang lebih besar dampak dan kualitasnya.

***

Kembali ke persoalan Wikileaks, sesungguhnya hal itu tidak berhubungan dengan content atau isi berita yang disampaikannya, karena mereka hanya menyadap kawat rahasia yang disampaikan oleh Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan kemudian mereka bocorkan. Baik Menlu AS Hillary Clinton maupun Dubes AS di Jakarta tidaklah membantah maupun membenarkan isi kawat yang disadap dan kemudian disebarkan itu. Mereka hanya mengecam penyadapan itu. Isi kawat rahasia yang disebarkan itu, menurut mereka belumlah merupakan kebijakan Pemerintah AS. Tentu saja setiap laporan dari kedubes negara manapun di dunia ini, semuanya akan menjadi bahan untuk diverifikasi dan didalami lebih lanjut. Namun apa sikap Pemerintah Pusat mereka tentang laporan itu, sangat tergantung, apakah akan didiamkan saja sebagai informasi atau akan dijadikan bahan untuk mewaspadai, atau akan ada reaksi, semuanya tergantung pada Pemerintahnya sendiri.

Seorang diplomat senior menceritakan kepada penulis bahwa sikap berlebihan yang ditunjukkan Pemerintan justru dapat menimbulkan tanda tanya besar. Bahkan lebih jauh, katanya, bocornya kawat diplomatik Kedubes Amerika Serikat itu bisa menjadi pertanda melemahnya dukungan AS terhadap suatu rezim (Indonesia). Nah! Bila dihubungkan dengan batalnya rencana telepon Obama kepada SBY, pendapat diplomat senior itu ada juga benarnya.

Kalau dugaan bahwa ketidakmampuan dan kepanikan negara dan aparaturnya menangani persoalan bocoran WikiLeaks harus ditutupi setidaknya dialihkan dengan berita-berita yang dianggap lebih menarik perhatian rakyat itu benar, maka sesungguhnya Teori Konspirasi tengah berjalan. Padahal yang lebih penting adalah substansi persoalan yang diberitakan yang memang tidak pernah disanggah -meskipun tidak juga dibantah, oleh sumbernya.[](rima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s