Bambang Soesatyo: Teror Bom Buku Cermin Ketidakberdayaan Intelijen

Anggota Komisi III DPR RI (Fraksi Partai Golkar) menyatakan, teror `bom buku` tak hanya mencerminkan ketidakberdayaan intelijen negara, tetapi juga membuktikan ketidakmampuan rezim pemerintahan mengendalikan dan menjaga ketertiban umum.

“Kalau Polri gagal mengungkap pelakunya, publik akan percaya bahwa tangan-tangan kotor Pemerintah berada di balik teror `bom buku` itu,” katanya melalui hubungan telepon seluler, Jumat.

Disadari atau tidak, target pengiriman tiga `bom buku`, tiga hari lalu itu, memperuncing disharmoni kehidupan umat beragama, khususnya sesama umat Islam.

“Saya melihat ada tangan-tangan kotor yang mulai berupaya mengeskalasi sekaligus mempertegas dikotomi Islam Konservatif versus Islam Liberal di Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Bambang Soesatyo tidak percaya pada asumsi, pelaku teror bom buku merupakan kelompok-kelompok yang menentang Islam Liberal.

Keyakinannya ini, menurutnya, mengacu pada dua indikator berikut.

“Pertama, umat beragama kita sudah sangat terbuka, baik dalam bersikap maupun menyatakan pendapatnya. Keterbukaan itu bisa dilihat dalam polemik seputar eksitensi Ahmadiyah di Indonesia,” ungkapnya.

Kalau pun ada sekelompok umat yang bersikap ekstra keras, lanjutnya, mereka mengaktualisasikan kemarahannya secara terbuka, tidak sembunyi-sembunyi ala pelaku pengirim `bom buku`.

“Namun, jika pun terjadi kekerasan berdarah seperti di Cikeusik, toh aksi kekerasan Cikeusik ternyata direkayasa,” ungkapnya lagi.

Indikator kedua, demikian Bambang Soesatyo, target tiga `bom buku` itu tidak mematikan.

“Bomnya dirakit oleh mereka yang ahli dan direkayasa agar bisa meminimalkan korban. Kalau pelakunya benar-benar penentang Islam Liberal, saya yakin teror itu pasti mematikan,” tegasnya.

Jadi, menurutnya, pelakunya terkesan hanya ingin mencari sensasi dan menciptakan kehebohan baru, agar publik segera berpaling dari `tsunami, `Wikileaks, juga `Gayus, dan Bank Century, yang sedang mengguncang jantung kekuasaan.

“Jika fungsi intelijen negara tidak segera direvitalisasi, kita semua harus siap mental, karena model teror seperti penebaran `bom buku` diperkirakan akan terus berlanjut,” katanya.

Sebaliknya, menurut Bambang Soesatyo, stabilitas nasional akan terjaga jika Pemerintah efektif menjalankan perannya sebagai penjaga ketertiban umum dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana.(Ach/ant/rima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s