Batu Caves dan Filosofinya

Sempatkanlah untuk mengunjungi Batu Caves apabila Anda sedang berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia. Bukit kapur Batu Caves adalah lokasi kuil Hindu terpopuler di luar India yang dipersembahkan untuk Dewa Murugan. Objek wisata religius yang juga merupakan spot utama untuk perayaan festival Thaipusam di Malaysia ini terletak sekitar 13 km dari Kuala Lumpur, dan tidak dikenakan biaya masuk untuk mengunjungi kawasan tersebut.

Setelah melompat ke dalam bus nomor 11D dari arah Pasar Seni dan membayar tiket sebesar 1.2 ringgit per orang, perjalanan 45 menit ke arah Batu Caves itu pun kami habiskan dengan tidur, apalagi didukung oleh teriknya matahari siang bolong dan minimnya pemandangan menarik menuju objek tersebut.

Pertama kali saya menapak ke dalam kawasan religius ini, objek pertama yang paling menarik perhatian saya adalah landmark berupa patung emas Dewa Murugan tertinggi di dunia (tingginya 42,7 meter) dan di belakangnya terlihat 272 anak tangga curam yang menuju sebuah gua di atas bukit kapur yang berfungsi sebagai kuil.

Belum hilang keterpukauan saya, dari belakang bahu saya terdengar desahan pelan, “Astaghfirullah…” Rupanya teman saya juga sangat terpukau melihat tingginya kuil di atas bukit tersebut dan langsung memutuskan untuk tidak ikut naik ke atas, he-he-he…

Ya, sebagai orang-orang yang tidak pernah menjadi anggota komunitas pecinta alam dan tidak pernah melakukan aktivitas mendaki gunung (hanya pernah trekking kecil-kecilan), ratusan anak tangga tersebut terlihat amat sangat mengintimidasi kami.

“Hadeuuhh, butuh berapa puluh menit ya untuk menuntaskan anak-anak tangga ini?” batin saya dalam hati. Saran saya hanya satu, datanglah ke tempat ini saat masih pagi atau sore sekalian, jangan tengah hari bolong. Terik matahari sepertinya cukup menciutkan semangat untuk naik ke atas.

Matahari siang bolong yang terik dan 272 anak tangga, here we come! Untuk mencapai kuil gua di ujung tangga bernama Temple Cave, tentunya kita harus mendaki ratusan anak tangga tersebut. Sekilas mengingatkan saya akan ratusan anak tangga di Gunung Bromo. Menantang sekali. Belum lagi ditambah panasnya matahari yang cukup menusuk kulit. Saya bisa menyerah sekarang, tapi apalah artinya petualangan kali ini kalau sudah sampai di sini dan tidak mencoba sensasi naik tangga tersebut.

Akhirnya dari empat orang, hanya saya dan satu teman saya yang memutuskan untuk mendaki sang bukit kapur. Perbekalan yang kami siapkan hanya segenggam niat … dan payung, dan sebotol air minum, dan kamera poket, … dan mp3 player (yang sudah saya isi ulang dengan daftar lagu Top 100) yang akan sangat berguna apabila tiba-tiba di tengah jalan kami mulai merasa bosan. Ya, kami memang cukup lebay.

Filosofi dalam 272 Anak Tangga Dan tahu tidak? Pendakian kali ini ternyata memiliki makna tersembunyi yang mungkin akan berpengaruh terhadap pola pikir kami di masa depan. Bagaimana ceritanya? Mari simak lebih lanjut catatan perjalanan di bawah ini.

Pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang masuk tangga, kami berpapasan dengan dua orang wisatawan muda yang juga terlihat ragu-ragu untuk memulai pendakian. Kami saling bertatapan dengan pandang penuh arti, melihat bersamaan ke arah tangga yang curam, menghela napas, dan saling melempar tawa. Yah, tampaknya kami harus segera memulai langkah pertama sebelum semangat kami goyah.

Seiring dengan anak tangga demi anak tangga yang satu persatu kami daki, beberapa kali kami berpapasan dengan para turis dari berbagai belahan dunia yang telah sukses mendaki ke atas dan sedang menuju ke bawah, dan setiap kali itu pula kami saling melempar senyum. Senyum tanpa batasan bahasa yang seperti memiliki arti “Ayo kamu bisa, sedikit lagi!”

Dari pengalaman tersebut, saya menemukan filosofi pertama dalam 272 anak tangga di hadapan saya.

Filosofi 1: Sekelompok manusia dengan berbagai macam latar belakang apabila dihadapkan dalam keadaan yang berat pasti akan lebih terdorong untuk saling bekerja sama dan mendukung satu sama lain —padahal mungkin dalam keadaan normal, mereka tidak akan terlalu peduli satu sama lain. Dalam situasi seperti ini, manusia sebagai makhluk sosial akan menciptakan unsur “kebersamaan” yang muncul dari keinginan mereka yang terdalam.

Sepertiga perjalanan, kami sudah ngos-ngosan dengan peluh mengucur deras. Ujung tangga masih terlihat jauuuuhhh di depan mata. Tiba-tiba saya ingin menbuat satu goal untuk tahun 2011 ini: “Sukses mendaki 272 anak tangga Batu Caves!” dan rupanya goal itu sedikit menambah semangat saya untuk meneruskan pendakian, yah paling tidak saya jadi punya alasan untuk terus berjuang, he-he-he…

Ah, tak lama akhirnya perjuangan kami terbayar sudah. Setelah beberapa kali istirahat mengumpulkan napas, akhirnya kami mencapai puncak tertinggi dan dapat menikmati pemandangan dari atas yang … ternyata biasa saja. Di atas, kami menatap bagian belakang patung Dewa Murugan dengan latar belakang pemandangan kawasan industri Gombak.

Tapi yang membuat kami kaget, ternyata kami berhasil mencapai puncak tertinggi hanya dengan waktu kurang dari 15 menit! Wah saya kira bakal habis minimal setengah jam…

Filosofi 2: Masalah yang awalnya tampak mustahil diselesaikan setelah dilewati ternyata tidak seburuk/sesulit seperti yang terlihat pertama kali.

Kami hanya menghabiskan waktu sebentar di Temple Cave. Di bagian depan area ini terdapat sebuah patung dewa di atas batu yang dinaungi payung berwarna kuning serta sebuah kios oleh-oleh yang tampaknya hari itu sepi pengunjung. Kalau ingin menjelajah lebih jauh ke dalam gua pun sebenarnya bisa, tapi saat itu kami sudah ingin cepat-cepat mencicipi kelapa muda (3 RM) yang dijual di mini market bawah. Perjalanan ke Bawah Untungnya kini kami sudah kuat mental melihat ratusan anak tangga yang *lagi-lagi* harus kami lalui, apalagi begitu ingat 15 menit lagi kami akan minum air kelapa muda segar. Satu persatu anak tangga kami turuni dengan sabar, dan secara tidak sadar kami sudah sampai mini market dengan waktu yang lebih singkat! Kelapa muda, tunggu kami!!

Filosofi 3: Masalah apa pun pasti akan terselesaikan dengan baik apabila kita menjalaninya satu persatu dengan sabar dan ikhlas.

Pesan Moral dari Cerita Ini Coba lihat, ternyata banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dari mendaki ratusan anak tangga tersebut bukan? Tapi ada satu poin terpenting dari “ujian” 272 anak tangga Batu Caves yang sangat berpengaruh di masa depan kami, yang dapat dipaparkan secara gamblang sebagai berikut:

Setelah berhasil melalui uji nyali naik 272 anak tangga tersebut, setiap kali kami mendapati eskalator yang rusak, anak-anak tangga di Kek Lok Si Temple Penang, maupun hambatan-hambatan kecil lainnya selama backpacking kali itu, kami selalu menyahut dengan bangga,

“Alaahh… Batu Caves aja kita berhasil, ginian doang mah keciiiilll…”

Yak, masalah apa pun memang menjadi terlihat kecil setelah melalui 272 anak tangga Batu Caves! Maka demikianlah pesan moral dari cerita ini yang sekaligus menutup catatan perjalanan saya di Batu Caves. (Herajeng Gustiayu)/(kps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s