Nuklir dan Pemilu Legislatif Regional Franco-Germanik 20 March 2011

Oleh : Moh. Ahlis Djirimu*(PhD Student International Economics CEMAFI Nice University Sophia Antipolis, Prancis.)

Pada 20 dan 27 maret 2011, Prancis menyelenggarakan pemilu legislatif provinsi. Bulan depan, Jerman menyelenggarakan kegiatan yang sama. Tidak ada baliho, spanduk maupun banner terpampang di sudut-sudut kota termasuk di halaman rumah kandidat sendiri.

Demikian pula, tidak kami temukan kandidat dadakan maupun instan, apalagi mengusung kandidat perempuan hanya untuk mengejar keterwakilan « dipaksakan » 30%. Baik di Prancis maupun di Jerman, kedua partai kanan sama-sama mengalami kekalahan dalam pemilu legislatif parlemen Eropa. Parlemen yang berpusat di Strasbourg justru didominasi partai hijau maupun sosialis. Jikapun ada, hanya satu yang menonjol, Rachida Dati, mantan Menteri Kehakiman Prancis dalam kabinet François Fillon IV, 2009, muslimah keturunan Tunisia.

Sementara Daniel-Cohen Bendith dan Eva Joly merupakan wakil partai hijau yang menonjol bukan saja partai hijau Prancis, tetapi partai hijau Eropa (les environnement europoéens). Saat ini, keduanya tengah mengusung referendum penghapusan total pembangkit nuklir di Prancis.

Jikapun ada tim sukses, hanyalah berasal dari famili dan anggota partai kandidat. Keunikan yang kami temukan adalah sang kandidat dari masing-masing dapil telah mengenal penduduk karena memang berdomisili dan mewakili rakyat dimana dia tinggal.

Mengenal bukan hanya sesaat, tetapi dibangun sejak lama. Untuk tidak berlebihan, “mengenal” dalam arti kandidat mengenal nama dan tempat tinggal masyarakat yang diwakilinya. Demikian pula sebaliknya. Hal ini mungkin terbentuk secara informal karena ketemu di pasar tradisionil, supermarket, halte tramway, bus dan subway atau di stadion, maupun momen jaring asmara tanpa harus meminta anggaran dari rumah tangga DPRD (conseiller general regional).

Secara umum, terdapat tiga tema sentral dalam pemilu legislatif regional kali ini, selain isu spesifik yang diusung dari masing-masing dapil (elections cantonnales). Pertama, tema Islam dalam masyarakat Prancis dan Jerman. Di Prancis tema ini berbarengan dengan isu “laïcité” alias sekulerisasi. Undang-undang 1905 di negara ini memisahkan antara urusan gereja dan negara.

Akibatnya, sejak empat jum’at lalu, masyarakat muslim di Prancis tidak diperkenankan lagi, menyelenggarakan ritual jum’atan di Jalan dan troitoir bila mesjid penuh. Hal ini diperparah oleh serangan Marine Le Pen, ketua Front Nasional Prancis yang rasis yang sedang euforia atas kemenangan sondage (polling) di atas Presiden Sarkozy dan Martine Aubry. Marine menyatakan penyelenggaraan ibadah (le culte) di jalan merupakan bentuk kolonisasi.

UMP sebagai partai berkuasa saat ini mengalami tekanan khusus dari simpatisan muslim Prancis. Sebagai agama terbesar kedua yang pemeluknya mencapai 5-6 juta jiwa (pemilih potensial) setelah pemeluk katolik (11.5 juta jiwa), di luar protestan (500.ribu jiwa), budha (150 ribu jiwa) dan Yahudi (125 ribu) menjadi taruhan bagi partai ini.

Di samping itu, beberapa hari sebelum perdebatan sekulerasi (5 april 2011), Presiden Sarkozy memecat salah satu penasehatnya, Abdurrahmane Dahmane, karena menyerang bos partai UMP, Jean-François Copé akibat yang terakhir ini dianggap melakukan stigmatisasi Islam. Walaupun, Jean-Louis Borloo, ketua partai radikal kanan yang telah mengambil jarak dengan pemerintahan Sarkozy, menyatakan la laïcité (sekulerisasi) tidak akan digunakan sebagai revolver membidik Islam.

Kedua, tema revolusi di dunia Arab. Selama ini, masyarakat Prancis menganggap pemerintah Sarkozy terlambat bahkan sebelumnya diam atas dinamika demokrasi yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya. Keterlambatan yang berujung pada pemecatan Menlu Michèlle Alliot-Marie.

Keterlambatan mengantisipasi eksodus penduduk Afrika Utara korban demokrasi melalui pulau Lampedusa, Itali merupakan keterlambatan berikutnya di tengah teriakan pemerintah Itali yang merasa ditinggalkan sendiri oleh Uni Eropa. Keterlambatan ini diperberat oleh tenggelamnya 30 orang Tunisia di antara 1500 penumpang minggu ini.

Ditambah lagi pembahasan tindakan yang tepat atas rezim Muammar Khadafi dua hari lalu di antara G8 di Paris tidak menghasilkan apa-apa. Keterlambatan antisipasi genosida etnik melalui les mercenaires (tentara sewaan Khadafi asal Chad dan Mali) di Libya yang memang sejak lama dipersiapkan rezim ini ditopang dana minyak. Hal ini tentu saja membenarkan headlinenews sebuah majalah Uni Eropa yang menampilkan sosok Khadafi bertuliskan « Khadafous » fous alias Khadafi gila.

Ketiga, isu nuklir kembali menghangat di Prancis maupun Jerman. Jika pemerintahan Angie Merkel melakukan moratorium tiga bulan atas pembangkit nuklir yang telah berusia tua. Tidak demikian halnya pemerintahan Sarkozy. Memang alasan madame Merkel sangat politis karena partai yang berkuasa di Jerman saat ini tidak ingin kehilangan simpati penduduk akibat tindakan copy paste mantan Menhan Zu yang sebenarnya kandidat potensial kanselir.

Apalagi dengan usia sangat muda, 39 tahun. Demonstrasi anti nuklir dengan slogan “ABSCHALTEN” alias tutup pembangkit nuklir yang didominasi kaum ibu (les mères d’antinuclaire) dan partai hijau Jerman menambah tekanan berat pada madame Merkel. Belum lagi penebangan beberapa pohon yang harus dikorbankan demi modernisasi sentra stasiun multiguna (bus, tram, kereta) di Stuttgart. Prancis sebagai kekuatan kedua nuklir dunia setelah USA, terdapat 58 pembangkit nuklir yang mengelilingi heksagon.

Beberapa di antaranya memang telah dihentikan operasinya seperti reaktor Saint-Laurent, 2 pembangkit (2x915MW), reaktor Chinon, 3 pembangkit (4x905MW), dan reaktor Brennilis (90MW). Semua reaktor tadi berada di wilayah tengah dan barat Prancis, khusus dataran rendah Normandia dan Nantes. Pembangkit ini, bukannya tanpa masalah. Kecelakaan akibat anomali (tingkat 1) dan kecelakaan tingkat 4 pernah terjadi pada tahun 1969, 1980 dan 1999. Pada tahun 1969 dan 1980, kecelakaan tingkat 4 pernah terjadi pada reaktor Saint-Laurent.

Demikian pula insiden tingkat 2 pernah terjadi di reaktor Blayais di la Rochelle. Kamipun dikepung oleh, lima reaktor nuklir selama 5 tahun: Bugey (2x880MW dan 2x910MW) di mana salah satunya sudah dihentikan operasinya karena umur tehnis dan ekonomis. Saint-Alban (2x1335MW) yang beroperasi antara 1982-1990, reaktor Creys-Malville yang beroperasi sebelum 1982 dan telah dihentikan, serta reaktor Cruas (4x915MW) dan Tricastin (4x915MW). Pada 2004, terjadi kebocoran radioaktif di reaktor Tricastin (baca trikastan) yang mengkontaminasi tehnisi nuklir. Melihat insiden Fukushima, walaupun tekanan rakyat Prancis pada pemerintahan Sarkozy tidak seekstrim rakyat Jerman, posisi pemerintahan Sarkozy menjadi berat karena 75% supply listrik negara ini berasal dari nuklir.

Negara ini sepertinya terlambat mengantisipasi dengan pembangkit arus dan gelombang laut seperti di Skotlandia. Jikapun ada alternatif lain, hanyalah terletak pada kincir angin (eolian) dan surya yang belum tentu cukup menutupi supply listrik. Mungkin saja negara ini akan belajar dari keberhasilan pembangkit surya di Itali dan Jerman.

Sayang sekali bagi Indonesia akan membangun PLTN di Bangka Belitung (Bangka Barat) pada 2022 di area seluas 805Ha tanpa memikirkan alternatif lain. Masih ada alternatif pembangkit arus laut, angin tenaga surya. Tentu saja sumber energi ini gratis apalagi tidak mengenal musim di negara kita. Mengapa PLTN di saat Jerman dan Prancis sedikit demi sedikit berpaling ke panel surya, kincir angin dan arus laut. Mental kita membangun boleh jempolan, tetapi merawat dan menjaga PLTN tunggu dulu.

Moh. Ahlis Djirimu*(PhD Student International Economics CEMAFI Nice University Sophia Antipolis, Prancis.)[]rima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s