Negara Barat, Teror dan Kehancuran Dunia

Sekutu Barat pimpinan Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Inggris terus menggempur basis-basis pertahanan militer loyalis Pemimpin Libya Muammar Khadafi.

Senin (21/3) malam waktu setempat, giliran pangkalan Angkatan Laut (AL) Libya dibombardir. Saat kegelapan menyelimuti Tripoli, bunyi ledakan bersahutan dan tembakan antipesawat menembus langit malam dekat kediaman Khadafi. Televisi Pemerintah Libya menyatakan, ibu kota diserang. “Sebuah pangkalan Angkatan Laut Libya yang berada 10 kilometer timur Tripoli juga dibombardir pasukan sekutu,” papar saksi mata,seperti dirilis AFP. Juru Bicara Pemerintah Libya, Mussa Ibrahim, menjelaskan, pesawat tempur sekutu menargetkan Kota Sebha,bagian selatan yang menjadi basis suku asal Khadafi, Guededfa, dan pangkalan militer.Ibrahim tidak menjelaskan ada kerusakan atau korban akibat serangan militer Barat.

Kepala Komando Afrika AS, Jenderal Carter Ham, di Washington mengatakan, sekutu akan terus mengerahkan kekuatan untuk melumpuhkan pasukan Khadafi. “Serangan yang dimulai pada Sabtu (19/3) malam dapat berkurang, tapi mandat Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) untuk zona larangan terbang akan diperluas ke penjuru Libya,”ucapnya. Jenderal Ham mengaku yakin pasukan sekutu akan berhasil melumpuhkan kekuatan Khadafi.Karena itu, dalam perkiraannya, kecuali terjadi sesuatu yang tidak terduga,intensitas pertempuran akan berkurang.

Akhir invasi Barat di Libya semakin tidak jelas ujungnya, meski pasukan sekutu merasa puas dengan kemajuan yang terjadi dalam mengurangi kemampuan pertahanan Khadafi. Apalagi saat ini Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berbeda pendapat tentang peran mereka dalam operasi militer di Libya. Sementara itu, pertempuran antara pemberontak dan pasukan loyalis Khadafi terus berlangsung.Pertempuran sengit di Misrata, dekat Tripoli, masih terjadi. Walaupun puluhan tank angkatan darat Libya hancur akibat serangan pesawat tempur sekutu di wilayah timur,pasukan loyalis Khadafi dapat memukul mundur pemberontak yang mencoba mengambil alih lagi Kota Ajdabiya kemarin.

Pemberontak memang masih lemah dan tidak terorganisasi jika dibandingkan dengan tentara Khadafi. Juru Bicara Pemerintah Libya, Mussa Ibrahim, mengklaim bahwa Misrata, kota ketiga Libya yang terletak 214 kilometer timur Tripoli, sudah dikuasai tentara pemerintah. “Pasukan Khadafi sedang memburu elemen-elemen teroris,” katanya. Namun, juru bicara pemberontak menyangkal laporan pemerintah. Menurutnya, Misrata masih dikontrol pemberontak meski diserang pasukan Khadafi.Petugas medis di Misrata membenarkan korban tewas mencapai 40 orang dan sedikitnya 300 orang terluka. “Korban tewas mencapai puluhan setelah para penembak jitu dan sebuah tank menembaki demonstran,”kata juru bicara pemberontak.

Pesawat Tempur AS Jatuh

Sementara itu, sebuah pesawat tempur AS, F-15E, jatuh di Libya akibat kerusakan teknis.“Dua kru melompat keluar dari F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS saat pesawat mengalami kerusakan di wilayah timur laut Libya, 21 Maret pada pukul 10.30 malam waktu setempat,” papar komando AS di Kota Stuttgart, Jerman. “Kedua kru keluar dengan aman.Penyebab insiden ini sedang diselidiki,” kata Juru Bicara Komando AS Nicole Dalrymple. Kru pesawat hanya mengalami luka ringan. Pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat (AS),Prancis, Inggris, serta sejumlah negara Eropa dan Arab beraksi berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang membenarkan semua cara untuk menghentikan pasukan Khadafi melukai warga sipil.

Berbagai aksi militer asing itu dalam koordinasi, namun tidak satu komando. Saat Presiden AS Barack Obama menyatakan tujuan utama serangan ialah menggulingkan Khadafi, Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron menegaskan, tidak ada dasar hukum untuk perubahan rezim di Libya. Menurut Cameron, resolusi Dewan Keamanan PBB terbatas untuk pemberlakuan gencatan senjata dan zona larangan terbang demi melindungi warga sipil.“Secara eksplisit tidak memberi landasan hukum untuk aksi menggulingkan Khadafi melalui kekuatan militer,” katanya di depan Parlemen, seperti dirilis kantor berita AFP. Namun,Cameron mengatakan, sekutu ingin melihat akhir 41 tahun pemerintahan Khadafi.

“ Pendapat kami jelas, tidak ada masa depan bagi Libya dengan Kolonel Khadafi tetap berkuasa,”ungkapnya. Para pejabat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengatakan, mereka akan kembali berunding setelah diskusi alot kemarin gagal menjembatani perbedaan tentang peran blok itu dalam operasi militer di Libya. Anggota NATO, yakni Prancis, Inggris, dan AS bertindak secara individual dalam operasi udara dan laut melawan Khadafi. Namun, Inggris, Italia, dan beberapa anggota NATO ingin blok tersebut menyatukan komando operasi militer di Libya. Presiden AS Barack Obama berharap NATO dapat terlibat dalam fungsi koordinasi pada tahap operasi selanjutnya.

“Seperti saya katakan, fokus awal kita mengambil alih pertahanan udara Libya sehingga zona larangan terbang dapat efektif dan pesawat serta pilot pasukan koalisi tidak terancam saat mereka mengawasi zona larangan terbang,” kata Obama saat mengunjungi Chile. “Aspek kedua ialah memastikan aspek kemanusiaan misi dapat tercapai.Tapi, izinkan saya menegaskan bahwa kami mengantisipasi transisi ini terjadi dalam beberapa hari, bukan pekan,”papar Obama. Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan dengan tegas menepis kemungkinan Ankara mengirimkan misi tempur apa pun ke Libya.Turki hanya setuju operasi itu bertujuan untuk kemanusiaan.

Prancis juga mengkhawatirkan dampak terhadap negara- negara Arab jika NATO mengambil alih kontrol operasi militer di Libya, meski Liga Arab mendukung zona larangan terbang.Sedangkan Jerman sejak awal menolak untuk mendukung Resolusi 1973 Dewan Keamanan PBB. Norwegia menegaskan, enam jet tempurnya akan tetap berada di landasan hingga ada kejelasan tentang pengelolaan operasi di Libya. Sedangkan Inggris, AS, dan Italia, yang mendorong misi ke Libya,mendesak agar NATO meningkatkan perannya. Denmark yang mengirimkan jet tempur ke Mediterania menyatakan keinginannya memimpin operasi militer untuk mendukung pemberontakan di dunia Arab.

Tidak seperti saat di Afghanistan dan Irak, peran Denmark di Libya mendapat dukungan penuh publik dalam negeri. “Denmark sudah di garis depan selama seluruh pemberontakan Arab dan di Libya. Kami sebuah negara kecil,tapi kami memiliki sejarah tanggung jawab terhadap tanggung jawab internasional kami,” papar Perdana Menteri (PM) Denmark Lars Loekke Rasmussen. Sementara itu, pesawat tempur Belgia dan Spanyol mulai berpatroli di angkasa Libya. Pesawat tempur Typhoon milik Inggris juga sudah memulai misi tempur pertama dari pangkalan militer Italia. Prancis mengatakan, kapal induk Charles de Gaulle dapat mulai bergabung operasi kemarin.

Saat pilot-pilot Italia mengatakan mereka membantu melumpuhkan pertahanan udara Libya,Perdana Menteri (PM) Italia Silvio Berlusconi mengatakan, pesawat mereka tidak menembak dan tidak akan menembak. Italia memiliki hubungan dekat dengan bekas koloni Libya. Kanada sudah mengirimkan enam pesawat F-18 menuju sebuah pangkalan di Pulau Sardinia, Italia, ribuan kilometer dari wilayahnya. “Misi ini dipenuhi harapan Ottawa untuk menunjukkan solidaritas dengan AS dan Inggris,serta keinginan memberlakukan resolusi PBB,” kata Houchang Hassan- Yari, pakar politik di Royal Military College,Kanada.

Situasi di Libya membuat harga minyak labil. Harga minyak untuk pengiriman April meningkat menjadi 102,38% per barel di perdagangan Asia. Di New York, Dewan Keamanan PBB akan menggelar pertemuan,Kamis (24/3) untuk membahas situasi di Libya. Mereka diperkirakan membahas perkembangan terbaru dalam upaya penerapan zona larangan terbang di Libya. (Juf/Sndo/rima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s