Menanti Kudeta Jenderal di Pintu Istana

Wacana penggulingan pemerintahan Presiden Yudhoyono yang dikomandoi sejumlah pensiunan jenderal, kembali memunculkan kisruh politik baru di Tanah Air. Konon, rezim SBY layak digulingkan, karena telah gagal membawa nasib bangsa ke arah yang lebih baik. Di sisi lain, kudeta untuk SBY tak lebih dari sekadar isu pepesan kosong yang tidak mungkin terjadi.

BELAJAR dari pengalaman sebelumnya, penggulingan penguasa akan lebih manjur jika dilakukan lewat aksi bersenjata, yang tentunya meminta tumbal darah.

Presiden SBY harus menghadapi serangan dari mantan koleganya semasa berkarir di militer. Entah dilandasi sakit hati atau tidak, yang jelas sejumlah jenderal purnawirawan TNI bertekad menggulingkan rezim SBY pada Kamis, (20/10/2011) mendatang. Tepat dua tahun masa pemerintahan SBY setelah terpilih kembali pada 2009 silam. Para pensiunan tentara sangat yakin, upaya penggulingan Presiden SBY bukanlah isu pepesan kosong.

Kami bekerja sama. Angle-nya atau jalan masuknya berbeda. Mereka berjuang atas nama Islam, kami menggunakan politik. Tapi kami punya tujuan yang sama, yaitu perubahan. Kami ingin menyelamatkan negara ini, bukan meruntuhkannya. Revolusi harus berjalan damai, bukan dengan pertumpahan darah, tegas mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Al Jazeera pada Januari lalu.

Bahkan, dalam siaran Al Jazeera pada Selasa (22/3/2011) itu, Tyasno yang selama ini dikenal sangat kritis terhadap pemerintahan SBY, juga menyatakan dukungannya kepada gerakan-gerakan Islam radikal. Dukungan itu tentu saja menggulingkan SBY lewat jalur revolusi.

Sebenarnya, ancaman kudeta terhadap SBY sudah pernah dilontarkan Tyasno sebelumnya. Bedanya, saat itu dia tidak menyinggung soal dukungannya terhadap kelompok Islam radikal.

Isu penggulingan SBY menjelang satu tahun pemerintahannya semakin merebak. Ini satu pertanda bahwa pemerintahannya itu sudah tidak mendapatkan legitimasi lagi dari rakyat,tegas Tyasno kepada wartawan di Jakarta, Selasa, (22/3/2010) silam.

Ia menilai, mayoritas rakyat Indonesia tak lagi nyaman di bawah pemerintahan SBY. Ini disebabkan oleh penegakan hukum dan keadilan yang tidak berpihak pada rakyat. Padahal, rakyat seharusnya mendapat pertolongan dari pemerintah. Bukan justru sebaliknya.

Banyaknya dosa-dosa pemerintah yang dipertontokan rezim SBY membuat Tyasno semakin yakin, kudeta kekuasaan SBY akan terwujud. Pasalnya, sambung dia, benih-benih ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah semakin tampak nyata.

Sekarang ini sudah dimulai isu penggulingan SBY, dan itu pemanasan-pemanasan kepada suatu pergerakan yang lebih masif, tandas Tyasno mengingatkan.

Masih pada tahun lalu, kemungkinan bakal tumbangnya pemerintahan SBY juga pernah disuarakan mantan Komandan Jenderal Korps Marinir, Letnan Jenderal (Purn) Suharto. Kata dia, masyarakat saat ini sudah semakin muak dengan kinerja pemerintah.

Ia menguraikan, masyarakat sudah benar-benar tidak lagi percaya dengan kinerja pemerintah. Namun, lanjut Suharto, manuver kudeta itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Menurut Suharto, biasanya, kudeta akan terjadi karena ada tugas konstitusional yang dilanggar oleh seorang presiden.

Selama ini yang terlihat dalam kinerja SBY masih adalah hal-hal kesalahan umum yang juga menjadi pembicaran masyarakat. Tapi SBY tetap harus hati-hati dan mau introspeksi diri untuk mencegah isu ini menjadi kenyataan,ujar Suharto memberikan peringatan.

Sementara itu, ancaman kudeta oleh pensiunan jenderal diyakini tidak akan pernah terwujud. Sebagai seorang purnawirawan, mereka tak lagi punya pengaruh apa-apa terhadap militer.

Di jaman sekarang purnawirawan melakukan kudeta itu hanya dongeng,†ungkap anggota Komisi I DPR Salim Mengga kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/3/2011).

Jangankan pensiunan jenderal, perwira yang masih aktif saja sulit dan tidak mempunyai keberanian untuk melakukan kudeta politik. Mereka tak punya kekuatan, kekuatannya ngomong sana ngomong sini, pungkas pensiunan jenderal bintang dua yang kini menjadi politisi Partai Demokrat ini.

Pakar intelijen Dynno Chressbon, berpendapat bahwa isu kudeta SBY hanyalah upaya propaganda yang dimotori oleh kelompok menamakan Petisi 28 yang dipimpin Haris Rusli Moti. Haris merupakan mantan ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Ini propaganda saja, menarik perhatian publik menjelang tanggal 20 Oktober satu tahun pemerintahan SBY,†kata Dynno, tahun lalu.

Dynno menilai, pelatihan militer, kegiatan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok yang mau menggulingkan pemerintahan merupakan ancaman yang lebih serius dibanding kelompok yang hanya bisa mempropaganda.[]_(shak H Pardosi/ rima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s