Perjodohan Politis Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit

Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens sempat mendengar isu yang beredar soal perjodohan tersebut. Menurutnya, sangat lumrah jika terajut cinta di antara dua anak muda.

Namun, isu perjodohan anak petinggi negeri ini juga dapat diplesetkan sebagai perjodohan politis. Setidaknya dapat memunculkan opini SBY butuh kekuatan keluarga tambahan untuk berkoalisi.

Fenomena jodoh politis seperti ini, katanya, kerap terjadi di beberapa negara berkembang seperti Filipina dan beberapa negara di Afrika. Selain itu, pernikahan yang lebih terkesan sebagai political wedding ini bisa dipastikan akan berujung pada penguasaan jaringan ekonomi.

Di Filipina fenomena seperti ini sudah terjadi. Dalam teori Hegelian, kondisi seperti ini akan menciptakan sistem bosisisme, di mana yang mengusai negara adalah beberapa orang-orang di lingkaran itu saja, ujarnya

Lebih lanjut Boni menjelaskan, sebenarnya untuk contoh kasus Indonesia yang notabene memiliki suku yang heterogen, hal yang paling kuat membentuk ikatan kultural adalah dengan sentimen agama. Berbeda dengan bangsa yang cenderung homogen, kekuatan perkawinan justru lebih kuat dalam membangun ikatan kultural.

Saya melihat Indonesia sedang mengalami pergesaran ke arah sana, dan efeknya bisa jadi akan muncul demokrasi monopolistik yang akan membentuk sebuah rezim dan hanya menghasilkan pemimpin dari sekelilingnya saja,katanya.

Boni menambahkan, di masyarakat Jawa persoalan perkawinan tidak saja dianggap sebagai sebuah upacara sakral semata, lebih dari itu selalu tak lepas dari kekuasaan. Motif perkawinan untuk kekuasaan yang bermula dari strategi Ken Arok untuk berkuasa yang kemudian menjadi strategi ampuh yang ditiru oleh kerajaan-kerajaan di tanah Jawa selanjutnya.

Selain cerita Ken Arok, perkawinan politik yang merupakan perwujudan terhadap kepentingan kekuasaan sebagai sesuatu yang sah dan formal dapat dilihat pada cerita Panji Semirang yang disusun pada masa pemerintahan Kameswara II di Kediri (1104-1222). Cerita Panji Semirang berbeda dengan Pararaton.

Di sini lebih banyak bercerita tentang percintaan dan ujung-ujungnya terjadi perkawinan antara Inu Kertapati dan Candra Kirana yang membuat empat negara Kediri, Kahuripan, Gegelang, dan Singasari bersatu.

Pernikahan politis seperti ini juga dilakukan pada masa Majapahit, di mana Kertarajasa menikahi putri Dara Petak dari negeri Campa untuk menanggulangi invasi kerajaan China (Tartar). Pada masa Kerajaan Mataram (Islam) mulai dari raja pertamanya, Panembahan Senopati (Sutawijaya), hingga Sultan Agung, wanita, pernikahan, yang ternyata dapat menjadi mesin penakluk yang efektif.

Panembahan Senapati menundukkan Mangir dengan mengumpankan putrinya untuk menjerat Ki Ageng Mangir. Demikian juga Madiun ditaklukkan dengan siasat simpatik, menikahi putri Panembahan Madiun. Pada masa cucu Panembahan Senapati, Sultan Agung menjadi penguasa, daerah pesisir utara dilumpuhkan dengan menaklukkan Surabaya (yang berkali-kali melakukan perlawanan) dengan menikahkan putrinya bernama Wandan Wangi dengan Pangeran Pekik. (mi/ian/rima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s