Sufi dan Lubang jarum Timur Tengah

oleh Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi –
Penjelasan dari Shaykh Dr. Abdalqadir as Sufi mengenai kondisi terkini di Timur Tengah.

Tidak ada yang namanya ‘breaking news’. Mitos media kapitalisme ateis adalah bahwa kita hidup dalam sebuah kontinum abadi. Dengan cara itu kita terselimur dari doktrin aktif bunga majemuk yang memastikan kita dalam kekuasaan debtorship, yang didasarkan pada berlalunya waktu dan waktu itu tak terukur oleh kecemasan para debitur. 


Peristiwa, sama saja, tidak terjadi. Mereka tidak terukur. Tsunami tidak ada maknanya, dan tanpa kontur. Di situ ada pasangan muda tenggelam pada hari pernikahan mereka, bayi yang selamat mengambang pada sebatang pohon, dan komentar Kepala Bank Dunia yang tercatat: ‘Ada satu miliar untuk kita di sini!’ 


Ketika tiga kediktatoran di Afrika Utara meledak secara hampir bersamaan, dan ketika media berbicara dengan mabuk sebuah kebangkitan untuk demokrasi, kebebasan dan modernitas sekarang saatnya untuk berhenti. Berhenti dan menolak. Peristiwnya belum terjadi, tidak memiliki kenyataan. Namun, ada dampak peristiwa-peristiwa, yang beresonansi dengan realitas, dan mari kita kemudian merefleksikan bahwa ‘sesuatu telah terjadi’. Maknanya selalu muncul kemudian. Bahkan saat itu, pemahaman tidak muncul dari sebuah peristiwa, tapi dari setting yang bagi kita melingkupinya.

Rumi mengatakan kepada kita bahwa ketika seorang Raja meninggal � sebuah peristiwa – untuk keluarga itu adalah tragedi dan hilangnya status, sedangkan untuk para tahanan yang mendapatkan amnesti itu adalah sukacita dan pemulihan status. 



Apa yang terjadi di pesisir Muslim Mediterania? Apa yang mungkin dihasilkan dari itu? 



Yang pasti, yang kita bisa memastikan, adalah bahwa rakyat Muslim dari tiga negara itu semua bangkit melawan kediktatoran: Tunisia setelah 20 tahun, Mesir setelah 30 tahun, dan Libia setelah 40 tahun. Ini berarti bahwa orang yang lahir 20 tahun yang lalu di Tunisia, 30 tahun yang lalu di Mesir dan 40 tahun yang lalu di Libya telah hidup tanpa pengetahuan Islam dan di bawah diktat Negara bahwa Islam adalah musuh masyarakat. Negara-negara Arab tanpa Islam � kehidupan dijalani ddalam pengebirian Islam. Diktator mereka semuanya memulai masa berkuasa mereka dengan persetujuan dan pujian dari massa. Karena Negara Islam secara terbuka dipandang sebagai musuh – masing-masing memiliki program penyiksaan dan eksekusi terhadap aktivis Muslim dan ulama. Hal ini tidak berarti ‘Islam-ist’ dan teroris potensial adalah para korban. Sebaliknya para ulama yang dibunuh itu mengusulkan Deen yang sederhana sebagaimana yang dipahami oleh Ibn ‘Ashir, Ibnu Abi Zaid al-Qayrawani dan Ibn Juzayy. 


Para diktator tidak jatuh sepenuhnya dalam indoktrinasi anti terhadap Islam yang jatuh dari langit gurun yang cerah. Mereka, pada gilirannya, adalah efek. Sebuah hasil. Hasil dari racun infektif. Karena virus perusaknya bertahan, dan memang sungguh demikian, menjadi zona toksisitas, sehingga penyakit yang diderita bangsa Arab menimbulkan dari rawa-rawanya keluar demam penuh yang mendorong perusak yang disebut sosialisme ateis. Keluar di atas pentas pemimpin sosialis, Nasser. Di belakang kemunculannya adalah bencana doktrin palsu di Mesir dan setelah dia datang dai modern agama baru, anti-Islam, direka menjadi toleransi kapitalis mondial, maksud saya Syaikh Qardawi dan Syaikh Ghanouchi.


Keduanya berdiri menunggu sampai debu menghilang sehingga mereka bisa meneken, sekali dan untuk selamanya, bangsa Arab dari pencerahan, kebijaksanaan, dan tugas-tugas Islam itu sendiri. Muslim pesisir dari Mediterania hidup dengan kosong pengetahuan, bimbingan dan Adab yang sederhana. Arab modern hidup tanpa Islam dan kehilangan bahasa Al Kitab yang dapat menyelamatkan mereka. 


Apa yang akan ia dapatkan dari yang disebut Revolusinya ini? Itu bahkan bukan sebuah revolusi di Mesir – itu cuma demo. Mereka tidak berbaris. Mereka tidak menyerbu Istana. Mereka tidak membunuh diktator. Sang Diktator berlindung di sudut kot yang dilindungi Israel, meninggalkan di belakangnya orang yang sangat dikenal sebagai penyiksa dan pembunuh, sang Wakil-Presiden dan sang Komandan Tertinggi Angkatan Darat dari zombie-zombi yang telah dimumikan, masih disubsidi dari Amerika. 


Orang-orang akan, tentu saja, terbebas dari sang diktator, akan datang sebuah komite menggantikannya. 



Mereka akan memilih para wakil rakyat yang akan memastikan bahwa mereka semua memiliki rekening bank dan kartu kredit. Dari sudut pandang para bankir itu adalah semacam mukjizat. Dalam semalam mereka telah mendapatkan beberapa ratus juta debitur baru. 



Revolusi ‘melati’, ‘mawar’, ‘stinkweed’, telah membangkitkan dunia Arab secara keseluruhan sepenuhnya masuk debtorship dalam perbudakan perbankan global. Seperti Yunani. Seperti Irlandia. Hanya terlilit utangnya lebih dalam. 



Mereka akan mendapatkan iPhone, iPad, dan psikosis baru hampir tak tersembuhkan, penyakit menjadi budak dari oligarki kapitalis baru yang sukses. 



Sementara itu orang-orang Arab muda perlu bergegas untuk Kebangkitan mereka dan memperoleh buku karya Umar Ibrahim Vadillo, Esoteric Deviation in Islam (‘Penyimpangan Esoterik dalam Islam’.)



Di dalamnya, sengatlah jelas, adalah diagnosa oleh seorang dokter yang berpengetahuan. Sedangkan untuk menyembuhkan dan terapinya – ini ada di tangan dokternya, para Suyukh aktif Qadiriyyah dan Naqshabandiyya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s