Korban Trafficking Perempuan,1 Dilacurkan Kena HIV

Selama Mei hingga pekan pertama Juni, 23 warga negara Indonesia korban trafficking atau penjualan manusia di Negara Bagian Serawak, Malaysia dipulangkan melalui Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong. Salah satu korban adalah tenaga kerja Indonesia yang dilacurkan dan akhirnya menderita HIV/AIDS.

Hingga Minggu (5/6/2011) masih terdapat tiga tenaga kerja Indonesia korban trafficking yang ditampung di Lembaga Swadaya Masyarakat Anak Bangsa, Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Para korban trafficking lainnya sudah dipulangkan ke daerah asal melalui Dinas Sosial Kalimantan Barat.

Direktur LSM Anak Bangsa Arsina Sumetro mengatakan, pihaknya selama beberapa tahun terakhir ini dipercaya oleh Konsulat RI di Kuching, Malaysia untuk menampung dan mengadvokasi seluruh korban trafficking di Serawak.

“Dalam empat tahun terakhir ini, kasus trafficking di Malaysia dan dipulangkan melalui Entikong relatif tinggi. Masalah ekonomi menjadi pemicu,” kata Arsinah.

Salah satu korban trafficking yang dipulangkan oleh LSM Anak Bangsa berinisial MI (20) adalah TKI yang dilacurkan oleh agennya. Dia berasal dari Bogor, Jawa Barat.

“Saat diantar ke penampungan Anak Bangsa, badannya kurus. Setelah sampai di Bogor, dia dirawat di rumah sakit dan setelah diperiksa, ternyata mengidap HIV/AIDS,” kata Arsinah.

Menurut pengakuan MI, dia dipaksa menjadi pelacur oleh agennya. MI terpaksa menjadi pelacur karena terus diancam dan selalu diawasi.

Nesem (44), TKI asal Pabuaran, Subang, Jawa Barat yang masih tinggal di penampungan Anak Bangsa mengaku tidak dibayar gajinya setelah dijual dari satu agen ke agen lainnya. “Saat mau berangkat dulu, dijanjikan mendapat gaji 500 ringgit setiap bulan, atau paling sedikit 350 ringgit. Namun, setiap kali meminta gaji pada majikan, dia bilang sudah dibayarkan kepada agen. Saya hanya diber 100 ringgit setelah tujuh bulan bekerja. Akhirnya saya lari,” kata Nesem.

Nesem yang bekerja pada sebuah keluarga dengan mengurus orang lanjut usia di Sereke, Serawak itu akhirnya menggunakan uang 100 ringgit atau sekitar Rp 2,7 juta untuk menyewa mobil menuju konsulat RI di Kuching. “Uangnya habis untuk makan dan menyewa mobil yang harus beberapa kali ganti sampai ke konsulat di Kuching,” kata Nesem.

Jumlah kasus trafficking yang diadvokasi oleh LSM Anak Bangsa pada 2011 ini sudah mencapai 80 kasus. Tahun 2010 lalu, jumlahnya 176 kasus, tahun 2009 179 kasus, dan 2008 228 kasus.

Para TKI yang menjadi korban trafficking itu paling banyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Para TKI yang menjadi korban trafficking itu umumnya terdesak oleh kebutuhan hidup sehingga tergiur oleh tawaran para calo yang hendak memberangkatkan mereka.[]kps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s